Seperti halnya negara dengan banyak perusahaan yang mengenal IT sebagai salah satu bagian utama dari proses bisnis, Indonesia mulai banyak mempekerjakan pegawai untuk menangani masalah IT yang terdapat di masing-masing perusahaan. Namun berbeda dengan pegawai lainnya (karena fokus utama dari pembahasan ini adalah IT Worker), timbul masalah baik dari perusahaan ke IT Worker maupun sebaliknya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh banyak faktor, tetapi sebelum membahas masalah tersebut, pertama-tama kita akan membahas mengenai karakteristik dari IT Worker yang ada di Indonesia dan beberapa perbandingannya dengan yang berada di luar negeri (di luar Indonesia).
Secara umum, karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pekerja yang ingin bekerja di bidang IT antara lain tentu saja harus memiliki kemampuan di bidang IT, hal ini tidak menutup kemungkinan orang dari bidang lain yang mempelajari IT secara otodidak dapat mendaftar menjadi pegawai IT, selain itu kemampuan untuk dapat menganalisis suatu masalah dan cara penyelesaiannya menjadi salah satu karakteristik selanjutnya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemampuan si calon pegawai IT tersebut untuk beradapatasi secara cepat dan mampu bekerja bersama tim, hal ini disebabkan karena banyak perusahaan yang menerapkan pekerja di bidang IT bekerja di dalam tim. Karakteristik selanjutnya yang harus dimiliki adalah kemampuan dalam menjaga kerahasiaan data, tentu saja hal ini terkait dengan tugas dan peran IT Worker sebagai pengelola dari perusahaan mulai dari masalah administrasi hingga masalah keuangan perusahaan. -Untuk kode etik dari IT Worker dapat dilihat di IEEE (Institute Of Electrical And Electronics Engineers) yaitu suatu organisasi internasional yang beranggotakam para engineer/insinyur untuk pengembangan IT yang lebih baik dan layak.-
Masalah lalu muncul saat suatu perusahaan menganggap bahwa karakteristik IT Worker ini mengharuskannya untuk bekerja di bidang yang lain. Seorang pegawai IT dapat menangani beberapa bidang secara bersamaan. Pegawai IT dianggap sebagai sumber daya tunggal sebagai salah satu cara mengurangi jumlah pengeluaran perusahaan terhadap gaji pegawai. Pada berita yang dilansir oleh http://www.kompas.com merujuk pada hasil survey yang dilakukan oleh media teknologi ZDNet Asia menunjukkan bahwa di Indonesia pegawai IT memiliki gaji paling rendah jika dibandingkan dengan negara ASIA lainnya. Gaji yang paling tinggi dimiliki oleh Hongkong dengan angka 63.990 dollar AS per tahun. Selanjutnya Singapura dengan 51.864 dollar AS, Thailand 21.117 dollar AS, Malaysia 20.612 dollar AS, China 19.674 dollar AS, India 13.592 dollar AS, Filipina 8.816 dollar AS, dan terakhir Indonesia dengan jumlah gaji sebesar 7.017 dollar AS. Sementara itu dalam kemampuan, IT Worker yang ada di Indonesia tidak kalah dengan yang ada di negara lain. Dilihat dari pengalaman kerja rata-rata IT Worker yang ada memiliki rata-rata pengalaman kerja sebanyak 6,7 tahun dibandingkan dengan Cina yang hanya selama 6,2 tahun. Pegawai di Indonesia juga memiliki minimal 1 buah sertifikat sebesar 29,3%, lebih tinggi dibandingkan dengan negara Filipina dan Cina. Hal ini membuktikan bahwa pegawai IT di Indonesia tidak mendapatkan kompensasi yang layak jika dibandingkan dengan kualifikasi yang dimilikinya dan beban kerja yang ditanggung.
Dengan semua permasalahan yang disebabkan oleh perusahaan ke pegawai IT tentu saja banyak dari IT Worker yang mencari jalan tengah untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya ditengah himpitan ekonomi yang semakin tinggi, salah satu caranya adalah dengan mengambil side job atau kerja sampingan. Bahkan tidak sedikit dari pegawai IT yang tidak memiliki kepuasan atas kompensasi kerja mereka lebih memilih untuk pindah kerja atau bahkan membuka usaha mandiri. Hal ini menyebabkan usaha-usaha mandiri mulai menjamur di berbagai provinsi selain itu menimbulkan fenomena kutu loncat untuk IT Worker yang ada di Indonesia. Namun kembali lagi, bahwa munculnya suatu fenomena pasti memiliki penyebab yang dapat ditelusuri. Jika berandai-andai, jika pegawai IT mendapatkan bayaran yang seimbang dengan kualifikasi dan beban kerja yang ditanggung serta mendapatkan penghargaan oleh perusahaan yang mempekerjakannya maka tentu saja fenomena IT Worker ini dapat diminimalisir.
Source Tambahan :
1. Kompas
2. Curhat IT Worker
3. Etika Profesi IT Worker