RSS

Monthly Archives: May 2012

Disaster Recovery Planing (DRP)

Disaster recovery planning seperti seperti terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, merupakan perencanaan untuk pengelolaan secara rasional dan cost-effective bencana terhadap sistem informasi yang akan dan telah terjadi. Di dalamnya terdapat aspek catastrophe in information systems. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa DSP merupakan suatu perencanaan atau langkah-langkah antisipasi yang dilakukan oleh, baik pemerintah maupun lembaga/perusahaan lain untuk memback-up data-data yang terkait dengan aset dan proses bisnis yang dilakukan sebelum terjadi hal-hal tidak terduga yang disebabkan oleh disaster atau bencana alam.  DSP sendiri dimaksudkan untuk meminimilkan resiko sekecil apapun kehilangan data/sistem yang ada.

DSP sendiri yang paling banyak disebut adalah yang dilakukan oleh IBM. IBM mengeluarkan perangkat bernama IBM Disaster Recovery Center. Dengan perangkat ini perusahaan hanya perlu mengkhawatirkan masalah kinerja dan productivitas perusahaan. Semua pembackupan data dapat dilakukan oleh IBM DRC ini. Selain itu dengan adanya koneksi internet, seluruh data yang telah diback-up oleh IBM DRC dapat diakses dimanapun dan kapanpun.

Selain dengan adanya IBM DRC, pemerintah mencoba untuk melakukan pemback-upan data yang terkait dengan pemerintah. Pada pemerintah, terdapat prosedur-prosedur yang harus dilakukan sebelum melakukan DSP. Dimulai dari penyusunan entitas berdasarkan dari probabilitas dan frekuensi bencana. Langkah selanjutnya adalah menganalisis entitas yang ikut serta dalam pemulihan bencana. Setealh hal tersebut dilakukan dilanjutkand engan tugas koordinasi pemulihan bencanan untuk bencana informasi dan akuntansi yang terkait dengan data pemerintah. Langkah-langkah tersebut harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada untuk memperoleh hasil yang terdokumentasi dan tepat sasaran.

Prosedur DSP yang dilakukan berbeda antara satu perusahaan dengan perusaahaan lain. Perbedaan juga didapatkan pada prosedure DSP perusahaan dan pemerintah. Selain itu, pemilihan prosedur DSP tergantung dari tujuan dan kepentingan dari pengguna DSP.

Sumber :

1. Klasiber Glosarry MSDTI

2. DSP : Manajemen Bencana Administratif dan Akuntansi

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2012 in Kuliah

 

Tags: , , , , ,

Review Artikel Insourcing, Outsourcing, Co-Sourcing dan Self-Sourcing…

Dewasa ini banyak perusahaan yang lebih memilih untuk memperkerjakan pihak ketiga (selain karyawannya sendiri) untuk menyelesaikan suatu job. Bentuknya pun bermacam-macam seperti : Insourcing, Outsourcing, Co-Sourcing dan juga Self Sourcing. Pemilihan bentuk-bentuk pekerjaan pihak ke-3 oleh perusahaan ini tergantung dari banyak hal, bukan semata-mata karena keuntungan dari segi material namun juga competitif strategi dari segi yang lain juga. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai perusahaan dan pihak ke-3 yang dipekerjakannya, alangkah lebih baiknya jika kita membahas mengenai pengertian atau pemahaman secara umum tentang ke4 jenis pemerkerjaan pihak ke-3 ini.

Salah satu blog yang membahas mengenai masalah ini adalah seperti yang dituliskan pada blog Lovita, dijelaskan secara mendetail pengertian, keuntungan, kelemahan serta alasan dari penggunaan pihak ke-3   dalam suatu perusahaan. Keempatnya walaupun hampir sama, tentu saja memiliki perbedaan, seperti pada insourcing dan outsourcing. Sementara insourcing mengoptimalkan pegawai perusahaan mereka sendiri dalam mengerjalan suatu job, outsourcing sebaliknya, memperkerjakan pihak ke-3 dalam menyelesaikan suatu job yang ada. Hal ini tentu saja atas pemilihan beberapa pertimbangan yang cukup mendasar, seperti dengan memperkerjaan pihak ke-3 pekerjaan dari pegawai perusahaan menjadi tidak terganggu, sementara pemilihan insourcing juga perusahaan mempertimbangkan untuk memperdalam kemampuan dari pegawai sendiri dibandingkan dengan memberikan pengetahuan kepada pihak lain. Selain insourcing dan outsourcing terdapat juga co-sourcing dan selft sourcing. dalam blog yang di tulis Lovita di atas, penjelasan tentang ke-4 tipe ini dijelaskan secara mendetail dan jelas.

Dalam penggunaanya, perusahaan bisa memilih salah satu dari jenis yang ada, bisa juga mecombinasikan beberapa tipe secara bersama. Hal ini kembali lagi pada pertimbangan perusahaan dalam menentukan penggunaan tipe yang ada. Pada pemilihan tipe yang ada perusahaan mempertimbangkan beberapa faktor seperti biaya, penyebaran knowledge/pengetahuan perusahaan, competitive adventage perusahaan dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Semua kembali lagi kepada tujuan perusahaan dan manfaatnya kepada perusahaan.

Source :  Blog Lovita 

 
Leave a comment

Posted by on May 25, 2012 in Kuliah

 

Tags: , , , , , , , , , ,

IT Worker di Indonesia? Mapan kah?

Seperti halnya negara dengan banyak perusahaan yang mengenal IT sebagai salah satu bagian utama dari proses bisnis, Indonesia mulai banyak mempekerjakan pegawai untuk menangani masalah IT yang terdapat di masing-masing perusahaan. Namun berbeda dengan pegawai lainnya (karena fokus utama dari pembahasan ini adalah IT Worker), timbul masalah baik dari perusahaan ke IT Worker maupun sebaliknya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh banyak faktor, tetapi sebelum membahas masalah tersebut, pertama-tama kita akan membahas mengenai karakteristik dari IT Worker yang ada di Indonesia dan beberapa perbandingannya dengan yang berada di luar negeri (di luar Indonesia).

Secara umum, karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pekerja yang ingin bekerja di bidang IT antara lain tentu saja harus memiliki kemampuan di bidang IT, hal ini tidak menutup kemungkinan orang dari bidang lain yang mempelajari IT secara otodidak dapat mendaftar menjadi pegawai IT, selain itu kemampuan untuk dapat menganalisis suatu masalah dan cara penyelesaiannya menjadi salah satu karakteristik selanjutnya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemampuan si calon pegawai IT tersebut untuk beradapatasi secara cepat dan mampu bekerja bersama tim, hal ini disebabkan karena banyak perusahaan yang menerapkan pekerja di bidang IT bekerja di dalam tim. Karakteristik selanjutnya yang harus dimiliki adalah kemampuan dalam menjaga kerahasiaan data, tentu saja hal ini terkait dengan tugas dan peran IT Worker sebagai pengelola dari perusahaan mulai dari masalah administrasi hingga masalah keuangan perusahaan. -Untuk kode etik dari IT Worker dapat dilihat di IEEE (Institute Of Electrical And Electronics Engineers) yaitu suatu organisasi internasional yang beranggotakam para engineer/insinyur untuk pengembangan IT yang lebih baik dan layak.-

Masalah lalu muncul saat suatu perusahaan menganggap bahwa karakteristik IT Worker ini mengharuskannya untuk bekerja di bidang yang lain. Seorang pegawai IT dapat menangani beberapa bidang secara bersamaan. Pegawai IT dianggap sebagai sumber daya tunggal sebagai salah satu cara mengurangi jumlah pengeluaran perusahaan terhadap gaji pegawai. Pada berita yang dilansir oleh http://www.kompas.com merujuk pada hasil survey yang dilakukan oleh media teknologi ZDNet Asia menunjukkan bahwa di Indonesia pegawai IT memiliki gaji paling rendah jika dibandingkan dengan negara ASIA lainnya. Gaji yang paling tinggi dimiliki oleh Hongkong dengan angka 63.990 dollar AS per tahun. Selanjutnya Singapura dengan 51.864 dollar AS, Thailand 21.117 dollar AS, Malaysia 20.612 dollar AS, China 19.674 dollar AS, India 13.592 dollar AS, Filipina 8.816 dollar AS, dan terakhir Indonesia dengan jumlah gaji sebesar 7.017 dollar AS. Sementara itu dalam kemampuan, IT Worker yang ada di Indonesia tidak kalah dengan yang ada di negara lain. Dilihat dari pengalaman kerja rata-rata IT Worker yang ada memiliki rata-rata pengalaman kerja sebanyak 6,7 tahun dibandingkan dengan Cina yang hanya selama 6,2 tahun. Pegawai di Indonesia juga memiliki minimal 1 buah sertifikat sebesar 29,3%, lebih tinggi dibandingkan dengan negara Filipina dan Cina. Hal ini membuktikan bahwa pegawai IT di Indonesia tidak mendapatkan kompensasi yang layak jika dibandingkan dengan kualifikasi yang dimilikinya dan beban kerja yang ditanggung.

Dengan semua permasalahan yang disebabkan oleh perusahaan ke pegawai IT tentu saja banyak dari IT Worker yang mencari jalan tengah untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya ditengah himpitan ekonomi yang semakin tinggi, salah satu caranya adalah dengan mengambil side job atau kerja sampingan. Bahkan tidak sedikit dari pegawai IT yang tidak memiliki kepuasan atas kompensasi kerja mereka lebih memilih untuk pindah kerja atau bahkan membuka usaha mandiri. Hal ini menyebabkan usaha-usaha mandiri mulai menjamur di berbagai provinsi selain itu menimbulkan fenomena kutu loncat untuk IT Worker yang ada di Indonesia. Namun kembali lagi, bahwa munculnya suatu fenomena pasti memiliki penyebab yang dapat ditelusuri. Jika berandai-andai, jika pegawai IT mendapatkan bayaran yang seimbang dengan kualifikasi dan beban kerja yang ditanggung serta mendapatkan penghargaan oleh perusahaan yang mempekerjakannya maka tentu saja fenomena IT Worker ini dapat diminimalisir.

 

Source Tambahan :

1. Kompas

2. Curhat IT Worker

3. Etika Profesi IT Worker

 
Leave a comment

Posted by on May 17, 2012 in Kuliah

 

Tags: , , , , , ,

Arem-Arem Mie

Bahan :

  1. 5 bungkus indomie
  2. 5 bungkus bumbu indomie
  3. 350 gr daging cincang
  4. 1 buah bawang bombay
  5. 10 butir bawang merah
  6. 1 gelas susu encer
  7. 1/4 kg wortel,dipotong kecil lalu direbus sebentar
  8. 5 sendok minyak goreng untuk menumis
  9. 3 butir telur ayam
  10. daun pisang untuk membungkus
  11. garam,merica,gula pasir secukupnya
  12. 5 sendok makan kecap manis

Cara Membuat:

  1. Bawang dipotong halus,lalu ditumis harum.masukkan daging,wortel dan semua bumbu, masak sampai matang.
  2. Rebus indomie dengan 4 gelas air sampai matang. tiriskan lalu masukkan susu dan bumbu indomie,masak kembali.
  3. Kalau airnya sudah mengering, angkat dari api dan dinginkan sebentar, lalu masukkan telur dan aduk.

(author pengen coba kalo udh di rumah ^^)

Sumber : http://cuek.wordpress.com/2007/03/22/arem-arem-mie/

 
Leave a comment

Posted by on May 4, 2012 in Just For Fun

 

Tags: , ,

 
Design a site like this with WordPress.com
Get started